Sudah berapa yakk..

Minggu, 25 November 2012

Logika dan Penalaran Ilmiah


Logika dan penalaran ilmiah

BAB I
PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang
Kita sudah begitu sering berpikir, rasa-rasanya berpikir begitu mudah. Semenjak kecil kita sudah biasa melakukannya. Setiap hari kita berdialog dengan diri kita sendiri, berdialog dengan orang lain, berbicara, menulis, membaca suatu uraian, mengkaji suatu tulisan, mendengarkan penjelasan-penjelasan dan mencoba menarik kesimpulan-kesimpulan dari apa yang kita lihat dan kita dengar. Terus-menerus sering kali hampir tanpa rasa disadari.
Namun, apabila diselidiki lebih lanjut, dan terutama bila harus dipraktekkan sungguh-sungguh, ternyata bahwa berpikir dengan teliti dan tepat merupakan kegiatan yang cukup sukar juga. Manakala kita meneliti dengan seksama dan sistematis berbagai penalaran, segera akan dapat diketahui bahwa banyak penalaran tidak “menyambung”, tidak “nyekurep”. Di dalam kegiatan berpikir, benar-benar dituntut kesanggupan pengamatan yang kuat dan cermat; dituntut kesanggupan melihat hubungan-hubungan, kejanggalan-kejanggalan, kesalahan-kesalahan yang terselubung dan lain sebagainya.
Orang biasanya menganggap benar apa yang disukainya, apa yang dimauinya. Perasaan dan prasangka dapat bahkan sering mengelabui atau mengaburkan pandangan mata kita sehingga terjadi kesimpulan-kesimpulan yang ngawur. Selain itu kebiasaan-kebiasaan dan pendapat umum mempengaruhi jalan pikiran kita. Dalam praktek sering kali sulit untuk mengajukan alasan yang tepat, atau menunjukkan mengapa suatu pendapat tidak dapat kita terima.
Keinsafan akan adanya kesulitan-kesulitan itu mendorong orang untuk memikirkan caranya ia berpikir, serta meneliti asas-asas hukum yang harus mengatur pemikiran manusia agar dapat mencapai kebenaran. Dengan demikian timbullah suatu ilmu yang disebut logika, yang dipelopori oleh Aristoteles (348 – 322 SM) dengan karyanya yang terkenal To Organon. Logika melatih kita untuk dapat membedakan pemikiran yang tepat, “lurus” dan benar dari yang kacau serta salah, atau “nalar yang pating sluwir”, yakni pikiran yang rompang-ramping.

BAB II
PEMBAHASAN
1.    Pengertian Penalaran
Penalaran merupakan konsep yang paling umum menunjuk pada salah satu proses pemikiran untuk sampai pada suatu kesimpulan sebagai pernyataan baru dari beberapa pernyataan lain yang telah diketahui. Pernyataan itu terdiri dari pengertian-pengertian sebagai unsurnya yang antara pengertian satu dengan yang lainnya ada batas-batas tertentu untuk menghindari kekaburan arti.
Pengertian penalaran adalah merupakan suatu pemikiran jenis yang khusus, yang didalamnya penyimpulan terjadi, atau didalamnya kesimpulan ditarik dari premis-premis yang ada atau Penalaran merupakan proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.
Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence). Hubungan antara premis dan konklusi disebut konsekuensi.
Penalaran adalah suatu proses berpikir dengan menghubungkan bukti, fakta, petunjuk atau eviden, atau pun sesuatu yang dianggap bahan bukti, menuju suatu kesimpulan.
Logika mempelajari masalah penalaran (reasoning) dan tidak semua kegiatan berpikir itu adalah sebuah penalaran. Kegiatan penalaran dalam logika disebut juga dengan penalaran logis. Penalaran adalah proses dari akal manusia yang berusaha untuk menimbulkan suatu keterangan baru dari beberapa keterangan yang sebelumnya sudah ada. Dalam logika, keterangan yang mendahului disebut premis, sedangkan keterangan yang diturunkannya disebut kesimpulan. Penalaran dianggap sebagai konsep kunci yang menjadi pembahasan dalam logika. Penalaran adalah suatu corak pemikiran khas yang dimiliki manusia untuk memecahkan suatu masalah.

Menalar / berpikir
Yaitu kegiatan berpikir atau akal budi manusia. Dengan berpikir dimaksudkan kegiatan akal untuk “mengolah” pengetahuan yang telah kita terima melalui panca indra, dan ditujukan untuk mencapai suatu kebenaran. Jadi, dengan istilah “berpikir” ditunjukkan suatu bentuk kegiatan akal yang khas dan terarah. “Melamun” tidaklah sama dengan berpikir, demikian pula merasakan, pekerjaan panca indera (melihat, mendengar dan sebagainya) dan kegiatan ingatan dan khayalan, meskipun ini semua penting sekali untuk dapat berpikir (dan menghasilkan buah pikiran yang berarti). Tetapi berpikir juga berarti kegiatan kenyataan yang menggerakkan pikiran. kenyataan yang memegang inisiatif.
Dengan kata-kata yang lebih sederhana dapat dikatakan bahwa berpikir adalah “berbicara dengan dirinya sendiri di dalam batin” (Plato, Aristoteles); mempertimbangkan, merenungkan, menganalisa, membuktikan sesuatu, menunjukkan alasan-alasan, menarik kesimpulan, meneliti suatu jalan pikiran dan sebagainya.
Agar suatu penalaran atau pemikiran menelorkan kesimpulan yang benar, ada tiga syarat pokok yang harus dipenuhi, yaitu :
a.    Pemikiran harus berpangkal dari kenyataan atau titik pangkalnya harus benar
Suatu pemikiran yang meskipun jalan pikirannya ‘logis’ tidak berpangkalan dari kenyataan atau dari dalil yang benar, tentu tidak akan menghasilkan kesimpulan yang benar.
b.    Alasan-alasan yang diajukan harus tepat dan kuat
Kerap kali orang mengajukan pertanyaan atau pendapat tetapi sama sekali tidak dibuktikan atau didukung dengan alasan-alasan yang kuat. Sering juga orang ‘merasa’ sudah pasti dan yakin dalam menarik kesimpulan, padahal sebenarnya tidak cukup alasan, atau alasan yang dikemukan itu tidak ‘kena’, tidak kuat, tidak membuktikan apa-apa.
c.    Jalan pikiran harus logis atau lurus (‘sah’)
Jika titik pangkal memang benar dan tepat, tetapi jalan pikiran (urutan langkah-langkahnya) tidak tepat, maka kesimpulan juga taidak tepat dan benar. Jalan pikiran itu mengenai pertalian atau hubungan antara titik pangkal/alasan dan kesimpulan yang ditarik daripadanya. Jika hubungan tersebut tepat dan logis, maka kesimpulan disebut ‘sah’ (valid).

2.    Tujuan Penalaran
Tujuan dilakukannya penalaran adalah sebagai berikut :
1)    Sebagai panduan untuk  mampu memberikan perkembangan yang berarti  pada potensi yang anda miliki.
2)    Untuk mengukur  kemampuan seseorang untuk memecahkan masalah secara logis berdasarkan informasi yang disediakan.
3)    Untuk mengukur  kemampuan seseorang dalam bekerja secara kompoten dengan angka-angka dan memecahkan masalah berdasarkan data yang tersedia berbagai bentuk, seperti diagram, grafi dan table statistic
4)    Untuk mengukur kemampuan seseorang dalam menggunakan bahasa dan memahami kata-kata secara tertulis.

3.    Logika dan Penalaran Ilmiah
a)    Logika
Perkataan logika diturukan dari kata sifat logike, bahasa yunani, yang berhubungan dengan kata benda logos, berarti pikiran atau perkataan sebagai pernyataan dari pikiran. Hal ini membuktikan bahwa ternyata ada hubungan yang erat antara pikiran dan perkataan yang merupakan pernyataan dalam bahasa. Logika juga  merupakan  mempelajari metode-metode dan prinsip-prinsip yang dipakai untuk membedakan penalaran yang tepat (valid) dan penalaran yang tidak tepat (tidak valid).
Penalaran merupakan proses berpikir untuk mendapatkan pengetahuan. Supaya pengetahuan yang didapat benar maka penarikan kesimpulan harus dilakukan dengan benar atau mengikuti pola tertentu. Cara penarikan kesimpulan disebut logika. Ada dua cara penarikan kesimpulan yaitu logika induktif dan logika deduktif.
Induksi merupakan cara berpikir dengan melakukan penarikan kesimpulan yang bersifat umum/general berdasarkan kasus-kasus individu/spesifik. Kentungan kesimpulan yang bersifat umum ini yang pertama adalah ekonomis. Dan yang ke 2 bahwa kesimpulan umum ini memungkinkan proses penalaran berikutnya baik induktif maupun deduktif. Dengan demikian memungkinkan untuk mendapatkan pengetahuan secara sistematis
Deduksi merupakan cara berpikir untuk melakukan penarikan kesimpulan dari peryataan umum menjadi pernyataan khusus. Penalaran deduktif menggunakan pola berpikir silogisme. Dari premis mayor dan premis minor kemudian ditarik suatu kesimpulan.
Contoh :
Semua mahluk memiliki mata - premis mayor
Si A adalah makhluk - premis minor
Jadi Si A memiliki mata – kesimpulan
Ketepatan penarikan kesimpulan bergantung pada kebenaran premis mayor, kebenaran premis minor dan cara/keabsahan penarikan kesimpulan.
Baik logika deduktif maupun induktif menggunakan pengetahuan sebagai premis-premisnya berupa pengatahuan yang dianggapnya benar. Kaum rasionalis menggunakan metode deduktif untuk menyusun pengetahuannya. Premis yang digunakannya berasal dari ide yang menurut anggapannya jelas dan dapat diterima.
Dari sini kemudia muncul paham idealisme. Yaitu paham yang mengakui bahwa sudah ada prinsip yang ada jauh sebelum manusia memikirkannya. Prinsip yang sudah ada ini dapat diketahui manusia memlalui kemampuan berpikir rasionalnya.
Para pemikir rasional ini cenderung subjekti, jika tidak ada konsensus yang disepakati. Karena ide/prinsip bagi si A belum tentu sama dengan si B.
Berlawanan dengan kaum rasionalis, kaum empiris mendapatkan pengetahuan melaui pengalaman yang bersifat konkret yang diperoleh lewat tangkapan pancaindera manusia. Gejala-gejal yang diamati kemudian ditelaah lebih lanjut dan mendapatkan pola tertentu setelah mendapat karakteristik persamaan dan pengulanngan .dari pengamatan. Kaum empiris menganggap bahwa dunia fisik adalah nyata karena merupakan gejala yang tertangkap panca indera.

b)    Penalaran Ilmiah
Kemampuan menalarlah yang membedakan manusia dari binatang. Kemampuan menalar ini lah kekuatan manusia yang menyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuan. Binatang juga mempunyai pengetahuan tetapi hanya terbatas untuk bertahan hidup (survival). Manusia mampu mengembangkan kemampuannya karena dua hal, yaitu yang pertama manusia mempunyai bahasa untuk berkomunikasi dan mampu menyampaikan informasi atau pendapat. Hal yangke 2 manusia mempunyai kemampuan berpikir menurut kerangka berpikir tertentu.
Penalaran pada hakikatnya adalah proses berpikir dalam rangka menarik kesimpulan atau menemukan kebenaran.
Ciri-ciri penalaran sebagai kegiatan berpikir
·         logis , kegiatan berpikir dengan pola tertentu
·         analitik,
perasaan meruapakan kegiatan peanarikan kesimpulan yang tidak didasarkan penalaran. Instuisi adalah kegiatan berpikir non analatik yang tidak berdasarkan pola tertentu.
Untuk melakukan kegiatan penalaran analisis , maka kegiatan tersebut awalnya harus diisi dulu oleh sebuah materi pengetahuan yang benar. Pengetahuan yang digunakan dalam penalaran biasanya berdasarkan rasio ataupun fakta.
·         Rasionalisme adalah aliran yang berpendapat bahwa rasio adalah sumber kebenaran. Rasionalisme memakai cara penalaran deduktif.
·         Empirisme adalah paham yang menyatakan bahwa fakta yang tertangkap lewat pengalaman manusia adalah sumber kebenaran. Cara penalaran yang digunakan oleh paham empirisme adalah penalaran induktif.
Penalaran ilmiah dipakai untuk meningkatkan mutu ilmu dan teknologi. Penalaran ilmiah menggunakan gabungan dari penalaran induktif dan deduktif.
Dalam hal ini pula dibutuhkan sarana. Sarana dalam berpikir ilmiah pada dasarnya ada tiga yakni;
a)      Bahasa ilmiah, yaitu kalimat berita yang merupakan suatu pernyataan atau pendapat-pendapat.
b)      Bahasa logika dan matematika, merupakan dua pengetahuan yang selalu berhubungan erat, yang keduanya sebagai sarana berpikir deduktif. Baik logika maupun matematika lebihh mementingkan bentuk logis pernyataan-pernyataannya mempunyai sifat yang jelas.
c)       Logika dan statistika, mempunyai peranan penting dalam berpikir induktif untuk konsep yang berlaku umum.

4.    Produk Penalaran Ilmiah
1)    Karya Ilmiah
Karya ilmiah lazim juga disebut karangan ilmiah. Lebih lanjut, Brotowidjoyo menjelaskan karangan ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar. Karya ilmiah dapat juga berarti tulisan yang didasari oleh hasil pengamatan, peninjauan, penelitian dalam bidang tertentu, disusun menurut metode tertentu dengan sistematika penulisan yang bersantun bahasa dan isinya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya/keilmiahannya (Susilo, M. Eko, 1995:11).
Karya ilmiah atau dalam bahasa Inggris (scientific paper) adalah laporan tertulis dan publikasi yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan. Terdapat berbagai jenis karangan ilmiah, antara lain laporan penelitian, makalah seminar atau simposium, dan artikel jurnal yang pada dasarnya semua itu merupakan produk dari kegiatan ilmuwan. Karya ilmiah adalah semua bentuk karya tulis berupa buku, artikel, skripsi, tesis, desertasi, atau laporan ilmiah.
Data, simpulan, dan informasi lain yang terkandung dalam karya ilmiah biasa dijadikan acuan (referensi) ilmuwan lain dalam melaksanakan penelitian atau pengkajian selanjutnya. Isi (batang tubuh) sebuah karya ilmiah harus memenuhi syarat metode ilmiah. Menurut John Dewey ada 5 langkah pokok proses ilmiah, yaitu:
(1) mengenali dan merumuskan masalah
(2) menyusun kerangka berpikir dalam rangka penarikan hipotesis
(3) merumuskan hipotesis atau dugaan hasil sementara
(4) menguji hipotesis  
(5) menarik kesimpulan.

Ciri – ciri Karya Ilimiah
Secara ringkas ciri ciri karya ilmiah adalah sebagai berikut :
1)      Menyajikan fakta objektif secara sistematis atau menyajikan aplikasi hukum alam pada situasi spesifik.
2)      Penulisannya cermat, tepat, dan benar serta tulus. Tidak memuat terkaan. Pernyataan-pernyataan tulus tanpa mengingat efeknya.
3)      Tidak mengejar keuntungan pribadi, yaitu tidak berambisi agar pembaca berpihak kepadanya. Motivasi penulis hanya untuk memberitahukan tentang sesuatu. Penulis yang ilmiah tidak ambisius dan tidak berprasangka.
4)      Karya tulis yang ilmiah itu sistematis, tiap langkah direncanakan secara sistematis terkendali, secara konseptual dan prosedural.
5)      Karya tulis ilmiah itu tidak emotif, tidak menonjolkan perasaan. Karya tulis ilmiah menyajikan sebab-akibat dan pengertian/pemahaman. Kata-katanya mudah dikenali. Alasan-alasan yang dikemukakan indusif, mendorong untuk menarik kesimpulan tidak terlalu tinggi dan bukan ajakan.
6)      Tidak memuat pandangan-pandangan tanpa pendukung kecuali dalam hipotesis kerja.
7)      Ditulis secara tulus, dan memuat hanya kebenaran. Tidak memancing pertanyaan-pertanyaan yang bernada keraguan.
8)      Karya tulis ilmiah tidak argumentatif. Karya tulis yang ilmiah itu mungkin mencapai kesimpulan, tetapi penulisnya membiarkan fakta berbicara sendiri.
9)      Karya tulis yang ilmiah itu tidak persuasif yang dikemukakan fakta dan aplikasi hukum alam kepada problem-problem spesifik. Tujuan karangan yang ilmiah itu untuk mendorong pembaca merubah pendapat tetapi tidak melalui ajakan, argumentasi, sanggahan dan protes, tetapi membiarkan fakta-fakta berbicara sendiri.
10)   Karya tulis yang ilmiah itu tidak melebih-lebihkan sesuatu. Dalam karya tulis yang ilmiah hanya disajikan kebenaran fakta. Karena itu, memutar balikan fakta
Prinsip – Prinsip penulisan karya ilmiah
Tujuan menulis karya tulis ilmiah adalah memberkan informasi kepada pembaca tentang ilmu pengetahuan. Sewaktu menulis karya tulis ilmiah seyogyanya berpegang pada prinsip:
a)    Spesifik, bayangkan pembaca yang diajak berdialog itu, baik secara real maupun maya, adalah para pembaca yang memiliki inteligensi, tetapi belum diberitahu tentang topik yang sedang dipaparkan.
b)    Kesinambungan, tujuan yang telah ditetapkan tertuang dalam setiap paragraf, setiap kalimat, bahkan kata-kata secara bahu-membahu berada dalam satu kontinuitas yang runtun. Penjelasan diberikan pada suatu tempat yang tepat tidak ditunda pada bagian yang salah tempat.
c)    Bernas, bahasa yang digunakan sederhana, kongkrit, mudah dikenal dan umum dipakai oleh khalayak umum. Bahasa sederhana diartikan sebagai bahasa yang dibangun menurut kaidah-kaidah tata bahasa dan tertib dalam penulisannya. Kongkrit diartikan sebagai pelaku-pelakunya tidak abstrak. Kata-kata yang tidak lazim dipakai hendaknya dihindari.
d)    Koherens, pada setiap permulaan dan akhir suatu bagian, sub-bagian, sub-sub bagian perlu mencerminkan koherensi, seperti: pertama kali, katakan kepada pembaca apa yang akan anda katakan, kemudian katakan kepada pembaca, akhiri dengan perkataan kata-kata apa yang telah dikatakan”
e)    Memiliki daya tarik, usahakan agar karya ilmiah yang ditulis nampak menarik, enak untuk dibaca, tetapi tidak perlu ”sedap” untuk dibaca. Sebaiknya memperhatikan kaidah-kaidah penuturan bahasa Indonesia yang baku.
f)     Jujur, tulisan sebuah karya ilmiah perlu ditunjang sikap kejujuran, terutama dalam hal mengutip pendapat orang lain. Berhati-hati dalam menulis kutipan langsung dan tidak langsung. Jika menggunakan pendapat orang lain, katakan bahwa itu pendapat seseorang. Yang bisa dilakukan memberi komentar terhadap pernyataan yang dikutip itu, dalam suatu cakrawala pemahaman atau pembenaran. Hindari perbuatan ”plagiat”, yang hanya ”copy” dan ”paste” pernyataan-pernyataan orang lain.

Tahapan umum Penulisan Karya Ilmiah
a.    Tahap persiapan:
1.    Menemukan masalah atau mengajukan masalah yang akan dibahas dalam penelitian (didukung oleh latar belakang,identifikasi masalah, batasan, dan rumusan masalah)
2.    Mengembangkan kerangka pemikiran yang berupa kajian teoritis
3.    Mengajukan hipotesis atau jawaban atau dugaan sementara atas penelitian yang akan dilakukan
4.    Metodologi (mencakup berbagai teknik yang dilakukan dalam pengambilan data, teknik pengukuran, dan teknik analisis data)
b.    Tahap penulisan: perwujudan tahap persiapan ditambah dengan pembahasan yang dilakukan selama dan setelah penulisan selesai
c.    Tahap penyuntingan: dilakukan setelah proses penulisan dianggap selesai

Format Karya Tulis Ilmiah
Pada umumnya format sebuah karya tulis ilmiah terdiri dari tiga bagian utama, yaitu: bagian pengantar, isi karya tulis ilmiah, dan bagian pelengkap karya tulis ilmiah.
Bagian pengantar termasuk: halaman judul, lembar pengesahan, pengantar, daftar isi, daftar tabel (kalau ada), daftar gambar (kalau ada), daftar lampiran, abstrak. Bagian isi mencakup: Bab I pendahuluan (termasuk: latarbelakang masalah, rumusan masalah, pertanyaan penelitian/penelusuran, tujuan, asumsi dan hipotesis, pentingnya penelitian/penelusuran, metode penelitian/penelusuran, dan lokasi dan sampel penelitian/penelusuran); Bab II pembahasan dan Bab III kesimpulan. Bagian pelengkap terdiri dari: daftar pustaka, lampiran-lampiran (termasuk: angket atau panduan wawancara, atau instrumen penelitian lainnya), dan riwayat hidup peneliti.

Bagian Pengantar.
Judul karya tulis ilmiah. Judul karya tulis ilmiah dirumuskan dalam satu kalimat yang ringkas, komunikatif, dan afirmatif. Judul perlu mencerminkan konsistensi dan ruang lingkup, tujuan, subjek, dan metode penelitian/penelusuran. Pada halaman judul juga perlu disebutkan tujuan penulisan karya tulis ilmiah, nama peneliti, logo (Depdiknas), dan instansi tempat bekerja peneliti.
Lembar pengesahan. Lembar pengesahan adalah pernyataan atasan (bisa juga pembimbing) terhadap karya tulis ilmiah yang diajukan.
Kata pengantar. Berisikan uraian yang mengantar para pembaca terhadap karya tulis ilmiah yang diajukan. Biasanya berisikan rangkuman dan tata letak isi karya tulis ilmiah. Pengantar perlu juga diikuti ucapan terimakasih kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan karya ilmiahnya. Ucapan terimakasih sebaiknya disampaikan secara singkat dan tidak merupakan bagian terpisah.
Daftar isi. Daftar isi merupakan penyajian secara sistematika isi secara rinci dari karya tulis ilmiah yang diajukan. Daftar isi berfungsi untuk mempermudah para pembaca mencari judul atau sub-judul yang ingin dibacanya. Karena itu, judul dan sub-judul yang ditulis dalam daftar isi harus langsung ditunjukkan nomor halamannya. Nomor-nomor halaman awal sebelum Bab 1 menggunakan angka Romawi kecil (i,ii,iii,iv, dan seterusnya), dan dari halaman pertama Bab 1 sampai halaman terakhir karya tulis ilmiah menggunakan angka Arab (1,2,3,dan seterusnya).
Daftar tabel. Berfungsi menyajikan tabel secara berurutan mulai dari tabel pertama sampai dengan tabel terakhir yang ada dalam karya tulis ilmiah. Nomor tabel ditulis dengan menggunakan dua angka huruf Arab, dicantumkan secara berurutan, yang masing-masing menyatakan nomor bab dan nomor urut tabel. Contoh: Tabel 1.3. artinya tabel nomor 3 pada Bab 1. Pada bagian ini juga sebaiknya ditunjukkan nomor halamannya.
Daftar gambar. Berfungsi menyajikan gambar secara berurutan, mulai dari gambar pertama sampai gambar terakhir yang ada dalam karya tulis ilmiah. Akidah penulisan sama dengan kaidah penulisan untuk daftar tabel.
Daftar lampiran. Daftar lampiran disusun seperti halnya daftar tabel dan daftar gambar. Nomor urut lampiran dinyatakan dengan dua angka dengan tanda penghubung di antaranya. Angka pertama menyatakan nomor Bab dan angka kedua menyatakan nomor urut lampiran. Contoh: Lampiran 1.2 artinya lampiran 2 dari Bab 1. .
Abstrak. Abstrak adalah ringkasan isi karya tulis ilmiah mulai dari Bab I sampai Bab V dalam uraian sangat singkat. Pada umumnya mencakup pernyataan: tujuan penelitian, masalah, metode, temuan penting, dan kesimpulan yang didapat. Karena ringkasnya, sebuah abstrak biasanya terdiri dari tidak lebih dari empat paragraf.
a.    Bab I         : Pendahuluan
Bab I karya tulis ilmiah berisi uraian tentang pendahuluan dan berisikan tentang: latarbelakang masalah, rumusan masalah, pertanyaan penelitian, tujuan penelitian, keguanaan penelitian, asumsi, hipotesis, metode penelitian secara garis besar beserta teknik pengumpulan data dan pendekatannya, lokasi dan sampel penelitian.
a.    Latarbelakang masalah
Penulisan latar belakang masalah dimaksudkan untuk menjelaskan alasan mengapa masalah yang diteliti itu timbul, dan mengapa merupakan hal penting untuk diteliti ditinjau dari segi profesi peneliti, pengembangan ilmu, dan kepentingan pembangunan di bidang pendidikan. Beberapa butir penting seperti:
1)      alasan rasional dan esensial yang membuat peneliti merasa resah, sekiranya masalah tersebut tidak diteliti;
2)      gejala-gejala kesenjangan yang terdapat di lapangan sebagai dasar pemikiran untuk memunculkan permasalahan;
3)       kerugian-kerugian yang mungkin timbul seandainya masalah tersebut tidak diteliti;
4)      keuntungan-keuntuangan yang mungkin timbul senadainya masalah tersebut diteliti;
5)       penjelasan singkat tentang kedudukan atau posisi masalah yang akan diteliti dalam ruang lingkup bidang studi yang ditekuni oleh peneliti.
Susunan latarbelakang seperti disebutkan di atas secara runtun, jelas, dan tajam. Pahami gejala-gejala yang muncul dalam dunia pendidikan, serta miliki pengetahuan yang luas dan terpadu mengenai teori-teori dan hasil-hasil penelitian terdahulu yang terkait. Tuntutan kemampuan tersebut merupakan alasan rasional mengapa penelaahan terhadap jurnal-jurnal hasil penelitian terdahulu yang terkait perlu dilakukan sejak awal.
b.    Rumusan masalah
Rumusan masalah adalah fokus dari penajaman latarbelakang, yang mengarahkan peneliti pada kajian-kajian yang akan diteliti. Rumusan masalah dapat dinyatakan dalam bentuk pernyataan terbuka, yang terambil karena kejelasan latarbelakang masalah, variabel yang diteliti, dan kaitan diantara variabel itu sendiri. Definisi operasional yang dirumuskan untuk setiap variabel yang diteliti perlu melahirkan indikator-indikator dari setiap variabel yang diteliti yang kemudian akan dijabarkan kedalam instrumen penelitian.
c.    Pertanyaan penelitian
Pertanyaan penelitian adalah penyimpitan fokus telaahan dari rumusan masalah, yang sering diungkapkan dalam bentuk kalimat bertanya. Rumusan pertanyaan ini akan memandu keseluruhan proses penelitian, terutama untuk perkiraan dan langkah-langkah selanjutnya yang perlu dilakukan dalam rangka menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.
d.    Tujuan penelitian
Rumusan tujuan penelitian menyajikan hasil yang ingin dicapai setelah penelitian selesai dilakukan. Karena itu, rumusan tujuan harus konsisten dengan rumusan masalah dan harus mencerminkan proses penelitiannya. Rumusan tujuan penelitian bukan merupakan rumusan maksud penulisan karya tulis ilmiah. Tujuan penelitian bisa terdiri dari atas tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum menggambarkan rumusan yang ingin dicapai secara umum. Sedangkan tujuan khusus menggambarkan rumusan tujuan spesifik yang ingin dicapai.
e.    Asumsi
Suatu penelitian mungkin mempunyai asumsi atau mungkin juga tanpa asumsi. Asumsi dapat berupa teori, bukti-bukti kuat yang oleh peneliti sendiri merupakan sesuatu yang dianggap benar dan tidaknya perlu dipersoalkan atau dibuktikan lagi kebenarannya. Asumsi dirumuskan dalam bentuk kalimat deklaratif dan bukan kalimat tanya, kalimat suruhan, kalimat saran, atau kalimat harapan.
f.     Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah atau submasalah yang diajukan oleh peneliti. Hipotesis dijabarkan dari landasan teori atau tinjauan pustaka. Melalui penelitian ilmiah hipotesis diuji kebenarnya, dan diperoleh hasil apakah hipotesis ditolak atau diterima. Dalam pelitian yang bersifat analistis, hipotesis perlu dirumuskan, sedangkan dalam penelitian yang bersifat deskriptif yang bermaksud mendeskriptifkan masalah yang diteliti, hipotesis tidak diperlukan. Hipotesis penelitian dirumuskan dalam kalimat afirmatif, dan bukan dirumuskan dalam kalimat tanya, kalimat suruhan, kalimat saran, atau kalimat harapan.
g.    Metode Penelitian
Metode penelitian yang disajikan dalam Bab Pendahuluan bersifat garis besar, dan pembahasan yang lebih rinci dan lengkap disajikan pada Bab III. Bagian ini menjelaskan secara singkat jenis-jenis penelitian: historis, deskriptif, eksperimental, atau inferensial; instrument dan teknik pengumpulan datanya (misal: penyebaran angket, wawancara, observasi atau studio dokumentasi).
h.    Lokasi dan Sampel Penelitian
Untuk memperoleh informasi sejauh mana generalisasi keberlakuan kesimpulan sebuah penelitian, dalam suatu penelitian harus dicantumkan lokasi dan subyek populasi/sampel penelitian, dilengkapi dengan alasan rasionalnya. Penjelasan mengenai alasan di atas menjadi kuat apabila dikaitkan dengan rumusan dan latar belakang masalah, tujuan penelitian, dan teknik analisis data

b.    Bab II        : Pembahasan
Pada bagian ini memuat dua hal utama, yaitu: pengolahan dan analisis data untuk menghasilkan temuan dan pembahasan atau analisis temuan. Pengolahan data dapat dilakukan berdasarkan prosedur penelitian kuantitatif atau penelitian kualitatif sesuai dengan desain penelitian yang diuraikan pada Bab sebelumnya. Uji hipotesis dilakukan sebagai bagian dari analisis data.
Bagian pembahasan atau analisis temuan mendiskusikan temuan tersebut dikaitkan dengan dasar teoritik yang telah disampaikan pada Bab sebelumnya. Dalam penelitian kualitatif hasil pengujian hipotesis akan memperlihatkan konsekuensi temuan terhadap landasan teori yang dirujuk. Demikian pula dalam penelitian kualitatif hasil pembahasan temuan merupakan bahasan yang terkait dengan teori yang digunakan pada Bab sebelumnya.

c.    Bab III       : Kesimpulan
Pada Bab III disajikan penafsiran dan pemaknaan peneliti terhadap hasil analisis temuan penelitian, yang disajikan dalam bentuk kesimpulan penelitian. Ada dua alternatif cara penulisan kesimpulan, yaitu:
1.    Dengan cara butir demi butir, atau
2.    dengan cara uraian padat.
Untuk karya tulis ilmiah seperti skripsi makna penulisan kesimpulan dengan cara uraian pada lebih baik daripada dengan cara butir demi butir.
Implikasi atau rekomendasi yang ditulis setelah kesimpulan dapat ditunjukkan kepada para pembuat kebijakan, kepada para pengguna hasil penelitian yang bersangkutan dan kepada peneliti berikutnya yang berminat untuk melakukan penelitian selanjutnya.
Bagian Pelengkap
Daftar pustaka. Daftar pustaka memuat sumber tertulis (buku, artikel, jurnal, dokumen resmi, atau sumber-sumber lain dari internet) atau tercetak (misalnya CD, video, film, atau kaset) yang pernah dikutip dan digunakan dalam penulisan karya ilmiah itu. Semua sumber tertulis dan tercetak yang tercantum dalam uraian harus dicantumkan dalam daftar pustaka. Sebaliknya, sumber-sumber yang pernah dibaca oleh peneliti tetapi tidak pernah digunakan dalam penulisan karya ilmiah tersebut atau tidak dikutip, tidak perlu dicantumkan dalam daftar pustaka. Cara menulis daftar pustaka berurutan secara alfabetis tanpa nomor urut.
Lampiran-lampiran. Lampiran berisi semua dokumen yang digunakan dalam penelitian dan penulisan hasil-hasilnya menjadi satu karya tulis ilmiah. Untuk memudahkan pembaca, setiap lampiran diberi nomor urut sesuai dengan urutan penggunaannya, dan diberi judul. Nomor urut lampiran dinyatakan dengan dua angka dengan tanda penghubung di antaranya. Angka pertama menyatakan nomor Bab dan angka kedua menyatakan nomor urut lampiran. Contoh: Lampiran 1.2 artinya lampiran 2 dari Bab 1.
Riwayat Hidup. Riwayat hidup disusun dalam bentuk uraian padat, dan hanya menyampaikan hal-hal yang relevan dengan kegiatan ilmiah, dan tidak semua informasi tentang yang bersangkutan. Riwayat hidup memuat informasi: nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, riwayat pendidikan, riwayat pekerjaan dan jabatan (untuk yang memiliki jabatan) prestasi-prestasi yang pernah dicapai, dan karya ilmiah yang pernah dipublikasikan. Riwayat hidup dapat disusun secara butir perbutir atau dalam bentuk uraian padat.
                                                                                           
2)    Jurnal
Jurnal sebagai terbitan berkala (berkala yang lain adalah : surat kabar harian dan mingguan, jurnal perdagangan, jurnal internal, jurnal review, jurnal popular dan majalah serta jurnal indeks dan abstrak), terutama berfungsi sebagai sumber informasi baru (Mayes, 1978:7). Jurnal adalah penting sekurang-kurangnya sekelompok orang, berkaitan dengan pekerjaan atau profesi mereka. Isi jurnal ada yang diperlukanhanya untuk kurun waktu yang singkat, tetapi ada juga yang bermanfaat untuk beberapa tahun, dan bahkan untuk waktu yang sangat lama.
Tujuan penerbitan jurnal ilmiah (scientific journal) pada awalnya adalah untuk memungkinkan para filsuf dan ilmuwan untuk mengkomunikasikan ide dan pemikiran mereka kepada orang lain yang tertarik dalam subjek yang sama atau berdekatan (Mayes, 1978:8-9). Alasan yang sama juga berlaku saat ini, komunikasi melalui jurnal lebih cepat dan bahkan lebih cepat lagi dengan versi elektronik, dibandingkan dengan publikasi buku. Publikasi buku dapat dilakukan setelah publikasi jurnal, atau publikasi jurnal adalah satu-satunya rekaman yang tersedia. Jurnal seperti ini biasanya diterbitkan oleh masyarakat / asosiasi profesi atau ilmiah, universitas atau institusi belajar lainnya, atau penerbit komersial.
Sejauh ini tidak ada aturan baku tentang bagaimana seharusnya desain jurnal ilmiah dan penyajian artikel didalamnya, baik yang menyangkut pola dan sistematika, susunan, maupun berbagai petunjuk teknis redaksional lainnya. setiap penerbit jurnal umunya memiliki kebijakkan tersendiri mengenai hal tersebut. Walau demikian jika kita amati berbagai publikasi jurnal yang ada terutama terbitan luar negeri, terdapat suatu kelaziman tentang hal tersebut.

Desain Jurnal
Desain adalah suatu rencana yang didasarkan pada suatu konsep yang dibuatsebelum menerbitkan suatu jurnal. Sedangkan ukuran, bentuk dan penampilan atau struktur pengaturan elemen-elemen jurnal disebut format. Dan cara elemen-elemen diatur pada halaman tertentu disebut tata letak (lay-out).
Dalam semua komunikasi cetak, desain yang baik dapat membantu dan menyinari isinya. Kombinasi yang baik dan isi yang miskin bisa gagal, tetapi ada yang tampil miskin dengan isi yang bagus kadang-kadang mampu bertahan dan berhasil baik. Bagaimanapun kita haru sbertujuan menghasilkan desain dan isi yang baik. Konsep kebersamaan isi yang baik dan desain yang baik terutam ditujukan pada editor dan art director. Penyunting harus berusaha untuk memelihara desain dalam batasan dan fungsinya tetapi mendorong direktur seni untuk memberikan nasehat kreatif yang menghasilkan sesuatu yang berkaitan dengan kejelasan dan keunikan (Conover, 1985:197). Keduanya harus berusaha keras menghasilkan suatu publikasi yang menarik dan mampu mempertahankan pembacanya.


Format dan isi
Artikel jurnal atau karya tulis ilmiah bergaya jurnal, biasanya terdiri dari bagian-bagian seperti berikut :
1)    Judul, Pengarang dan Afiliasi Institusi
Fungsi :
Artikel biasanya dimulai dengan judul singkat yang menggambarkan isi karya tersebut. Sebaiknya menggunakan kata-kata deskriptif yang benar-benar berhubungan dengan isi karya. Kebanyakan pembaca akan menemukan karya tersebut melalui databaseelektronik dengan menelusuri kata kunci yang ditemui pada judul.
Format:
·         Judul sebaiknya diketengahkan pada bagian atas halaman pertama, tidak digaris-bawah atau cetak miring.
·         Nama pengarang (pengarang utama pertama) dan afiliasi institusi dicantumkan dua spasi setelah judul dan diketengahkan. Jika pengarang lebih dari dua, nama dipisahkan dengan tanda koma kecuali untuk nama terakhir dipisah dengan menggunakan kata “dan”.

2)    Abstrak
Fungsi :
Abstrak adalah ringkasan aspek-aspek utamadari keseluruhan karya tulis, biasanya dalam satu paragraph, dengan urutan sebagai berikut :
·         Masalah yang diselidiki (atau tujuan), (diambil dari Pengantar)
Sebutkan tujuan dengan jelas pada kalimat pertama dan kedua.
·         Rancangan percobaan dan metode yang digunakan, (dari Metode)
Ungkapkan dengan jelas rancangan dasar studi : sebutkan atau uraikan dengan ringkas metodologi dasar dan teknik yang digunakan.
·         Temuan utama termasuk hasil kuantitatif, atau kecenderungan, (dari Hasil)
Laporkan semua hasil dengan menjawab masalah yang telah dikemukakan; identifikasi kecenderungan, perubahan relative atau perbedaan-perbedaan, dsb.
·         Ringkasan Interpretasi dan kesimpulan, (dari Diskusi)
Sebutkan dengan jelas implikasi dari hasil yang telah diperoleh.
Jika judul dapat memberikan pernyataan sangat sederhana tentang isi suatu artikel, maka abstrak memberikan uraian lebih terperinci untuk masing-masing aspek utama dari karya tersebut. Setiap aspek terdiri dari dua atau tiga kalimat. Abstrak membantu para membaca untuk memutuskan apakah mereka ingin membaca seluruh karya tersebut. Abstrak merupakan satu-satunya bagian dari suatu karya yang diperoleh melalui penelusuran literature elektronik atau abstrak yang dipublikasikan.

3)    Pengantar
Fungsi :
·         Memperlihatkan konteks dari karya yang dilaporkan. Pengantar diisi dengan mendiskusikan literature utama peneliti (dengan kutipan) dan meringkas pemahaman kita terkini tentang masalah yang diselidiki.
·         Menyatakan tujuan dari karya dalam bentuk hipotesis, pertanyaan, atau masalah yang diselidiki, dan
·         Menjelaskan dengan ringkas dasar pemikiran atau alasan dan pendekatan, dan jika memungkinkan, hasil yang mungkin diperoleh dari hasil tersebut.
Suatu Pengantar harus dapat menjawab pertanyaan : apa yang telah saya pelajari? Mengapa hal tersebut menjadi masalah yang penting? Apa yang kita ketahui tentang hal tersebut sebelum saya melakukan studi ini? Bagaimana studi ini bisa memajukan pengetahuan?
4)    Metode
Fungsi :
Dalam hal ini kita menguraikan dengan jelas bagaimana kita melaksanakan studi tersebut. Dengan struktur dan organisasi seperti berikut:
·         Subjek yang digunakan (manusia, tumbuhan, hewan, dsb) dan penangannya, kapan dan dimana studi tersebut dilakukan (jika lokasi dan waktu menjadi faktor penting).
·         Jika studi lapangan, suatu uraian tentang tempat studi, termasuk fitur fisik dan biologis dari lokasi yang sesungguhnya.
·         Percobaan atau rancangan sampel (antara lain bagaimana percobaan atau studi distrukturisasi, contoh, control, perlakuan, variable yang diukur, berapa banyak sampel yang dikumpulkan, replikasi, dsb).
·         Protokol untuk pengumpulan data, antara lain bagaimana prosedur penyelidikan telah dilakukan, dan
·         Bagaimana data tersebut dianalisis (prosedur statistic yang digunakan)
Penyajian sebaiknya diorganisasikan sehingga pembaca memahami alur logis dari penyelidikan tersebut, untuk itu diperlukan sub-heading, secara umum diberikan rincian kuantitatif (berapa banyak, berapa lama, kapan, dsb). Tentang prosedur penyelidikan tersebut sehingga ilmuwan lain bisa memproduksinya. Kita juga harus menjelaskan prosedur statistic yang digunakan untuk menganalisis hasil, termasuk tingkat probabilitasnya.

5)    Hasil
Fungsi :
Fungsi dari bagian hasil adalah menyajikan hasil utama yang objektif, tanpa interpretasi dalam suatu susunan logisdan teratur menggunakan bahan ilustratif (table dan gambar) dan teks. Ringkasan analisis statistic dapat dimuat dalam bentuk teks (biasanya dalam tanda kurung) table atau gambar yang relevan (dalam bentuk legenda atau catatan kaki terhadap tabel atau gambar).
Hasil seharusnya diorganisasikan dalam suatu seri tabel atau gambar secara berurutan untuk menyajikan temuan utama dalam susunan logis. Uraian tentang hasil mengikuti urututan tersebut dan jawaban terhadap pertanyaan / hipotesis yang diselidiki atau disorot (highlight). Hasil negatif yang penting juga harus dilaporkan. Penulis biasanya menulis bagian uraian hasil didasarkan susunan tabel dan gambar.

6)    Diskusi
Fungsi :
Untuk menginterpretasikan hasil yaitu apa yang telah diketahui tentang subjek penyelidikan tersebut, dan menjelaskan pemahaman baru terhadap masalah yang dikemukakan dengan memperhatikan hasil yang diperoleh. Diskusi akan selalu dihubungkan dengan Pengantar dengan pertanyaan atau hipotesis yang diterapkan dan literature yang dikutip, tetapi bukan berarti mengulang atau menata kembali Pengantar tersebut. Tetapi sebaliknya Diskusi menjelaskan bahwa studi yang dilakukan telah menggerakkan kita ke depan ke posisi semula seperti para uraian Pengantar.

7)    Penghargaan (Acknowledgment)
Fungsi :
Jika didalam penyelidikan tersebut kita memperoleh suatu bantuan penting dalam hal pemikiran, perancangan, pelaksanaan pekerjaan, atau memperoleh bahan-bahan dari seseorang dengan kemurahan hati memberikannya, kita harus menghargai bantuan mereka dan layanan serta bahan-bahan yang disediakan. Penulis selalu menghargai reviewer naskah mereka dan setiap sumber pendanaan yang emndukung penelitian tersebut. Walaupun hal ini bersifat opsional, tetapi penghargaan ini penting apabila kita ingin memperoleh dukungan mereka berikutnya dimasa yang akan datang.

8)    Rujukan (References)
Fungsi :
Bagian rujukan atau literature yang dikutip menyajikan daftar rujukan yang benar-benar dikutif dalam karya tulis, disusun secara alfabetis.
Di dalam tulisan (terutama Pengantar dan Diskusi), setiap merujuk pada suatu sumber informasi, kita harus membuat kutipn dari mana informasi itu di peroleh. Cara paling sederhana itu dengan menggunakan tanda kurung dan mencantumkan nama akhir pengarang dan tahun publikasi didalamnya. Beberapa jurnal seperti science, menggunaka nomor sebagai rujukan. Setiap jurnal harus menetapkan suatu model yang harus diikiuti oleh setiap penulis.
                                 
Perbedaan Karya Ilmiah dan Jurnal
a)    Karya Ilmiah
Karya Ilmiah memiliki aturan baku yang universal secara sistematik dalam penyusunan atau pembuatannya. Pada umumnya format sebuah karya tulis ilmiah terdiri dari tiga bagian utama, yaitu: bagian pengantar, isi karya tulis ilmiah, dan bagian pelengkap karya tulis ilmiah. Selain itu Isi (batang tubuh) sebuah karya ilmiah harus memenuhi syarat metode ilmiah.

b)    Jurnal
Sedangkan jurnal sejauh ini tidak ada aturan baku tentang bagaimana seharusnya desain jurnal ilmiah dan penyajian artikel didalamnya, baik yang menyangkut pola dan sistematika, susunan, maupun berbagai petunjuk teknis redaksional lainnya. setiap penerbit jurnal umunya memiliki kebijakkan tersendiri mengenai hal tersebut. Walau demikian jika kita amati berbagai publikasi jurnal yang ada terutama terbitan luar negeri, terdapat suatu kelaziman tentang hal tersebut.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN           :
Penalaran merupakan proses berpikir untuk mendapatkan pengetahuan. Supaya pengetahuan yang didapat benar maka penarikan kesimpulan harus dilakukan dengan benar atau mengikuti pola tertentu. Cara penarikan kesimpulan disebut logika.Penalaran ilmiah dipakai untuk meningkatkan mutu ilmu dan teknologi. Penalaran ilmiah menggunakan gabungan dari penalaran induktif dan deduktif.
Produk Penalaran Ilmiah terdiri dari karya ilmiah dan jurnal, dimana kedua produk ini berkateristik ilmiah yang hanya dibedakan oleh aturan dalam penyusunannya dan wujud produknya.
  

DAFTAR PUSTAKA

Ø  Poespoprodjo, W. 1989. Logika Ilmu Menalar. Bandung : Remadja Karya
Ø  Surajiyo. 2006. Dasar-dasar Logika. Jakarta : Bumi Aksara           
Ø  Suriasumantri, Jujun. 2007. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta : PT Pancaraintan Indahgraha

                                                                                             

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar