Sudah berapa yakk..

Minggu, 25 November 2012

Keefektifan Komunikasi Antar Dosen dan Mahasiswa Baru dalam Pembelajaran


BAB I
PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang
Manusia Sebagai maklhuk individu sekaligus maklhuk sosial senantiasa selalu berhubungan dengan manusia lainnya yang pada hakekatnya manusia adalah maklhuk monodualis. Manusia memiliki rasa ingin tahu terhadap dirinya sendiri maupun lingkungan sekitarnya yang mendorong manusia untuk perlu berkomunikasi.

Manusia sebagai makhluk sosial mempunyai kebutuhan dasar, yaitu menjalin hubungan dengan orang lain. Dalam menjalin hubungan dengan orang lain manusia melakukan komunikasi. Lunandi (1992, h. 37) menyatakan bahwa komunikasi adalah kegiatan menyatakan suatu gagasan dan menerima umpan balik dengan cara menafsirkan pernyataan tentang gagasan dan pernyataan orang lain. Berdasarkan pernyataan Lunandi tersebut dapat di sederhanakan bahwa komunikasi tidak hanya sekedar menyampaikan pesan dari komunikator ke komunikan, tetapi ada umpan balik dari pesan yang disampaikan.

Banyak pakar menilai bahwa komunikasi adalah kebutuhan yang sangat fundamental bagi seseorang dalam hidup bermasyarakat. Profesor Wilbur Schramm (Cangara,2006:1) menyebutnya bahwa komunikasi dan masyarakat adalah dua kata kembar yang tidak dapat dipisahkan satu ama lainnya. Sebab tanpa komunikasi tidak mungkin masyarakat terbentuk, sebaliknyapun begitu, tanpa masyarakat manusia tidak mungkin dapat mengembangkan komunikasi.

Seperti yang disebutkan diatas bahwa komunikasi tidak lepas dari masyarakat, begitupun dalam dunia pendidikan. Di perlukannya komunikasi antar sesama peserta didik atau antara peserta didik dengan pendidik, agar pendidikan dapat berjalan dengan lancar.
                                  



BAB II
PEMBAHASAN
A.       Konteks Komunikasi Antar Dosen dan Mahasiswa Baru
Masa peralihan yang dialami mahasiswa baru dari SMA ke tingkat Universitas sangat berpengaruh dalam kegiatan belajar dan mengajar yang dialami. Keadaan tersebut mendorong Mahasiswa baru untuk mampu menyesuaikan diri dengan yang mereka hadapi sekarang. Penyesuaian diri tersebut muncul karena perubahan yang dialami si mahasiswa dari berbagai aspek fungsionalnya sebagai individual baik fisik maupun psikisnya.

 Dalam dunia pendidikan khususnya universitas juga tidak terlepas dari peran komunikasi. Komunikasi tersebut perlu dikembangkan. Komunikasi yang terjadi berupa interaksi antar mahasiswa ataupun dengan dosennya. Termasuk mahasiswa baru yang butuh penyesuaian dalam dunianya tersebut. Salah satu faktor penentu positif negatifnya suatu hubungan adalah komunikasi, karena komunikasi merupakan salah satu komponen pembentuk hubungan interpersonal.[1] Komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang dilakukan oleh dua orang yang saling menjalin hubungan interpersonal.[2]

Komunikasi merupakan faktor yang penting dalam hubungan interpersonal. Kebutuhan seseorang akan rasa ingin tahu, aktualisasi diri, dan kebutuhan untuk menyampaikan ide, pemikiran, pengetahuan dan informasi secara timbal balik kepada orang lain dapat terpenuhi melalui komunikasi. Komunikasi juga membantu individu dalam proses perkembangan intelektual dan sosial, pembentukan identitas diri dan jati diri, sumber pembanding sosial dan penentu kesehatan mental.[3] Bentuk khusus dari komunikasi interpersonal ialah komunikasi diadik. Dimana ciri-ciri komunikasi diadik[4] ini adalah :
·         Pihak – pihak yang berkomunikasi berada dalam jarak dekat
·         Pihak – pihak yang berkomunikasi mengirim dan menerima pesan secara simultan dan spontan, baik verbal maupun non verbal.
Melihat ciri – ciri bentuk khusus komunikasi interpersonal diatas dapat kita katakan bahwa komunikasi ini meletakkan keberhasilan berlangsungnya komunikasi kepada para peserta komunikasi yang menjadi pedomannya. Komunikasi yang pada kenyataannya berlangsung tatap muka ini mampu membuat para peserta komunikasi menjadi lebih lebih akrab antara satu dan  yang lainnya, dibandingkan komunikasi melalui media massa. Komunikasi ini diperkirakan akan menjadi komunikasi terpenting hingga kapanpun, selama para peserta kkomunikasi masih memiliki emosi.

B.   Keefektifan Tujuan Komunikasi antar Dosen - Mahasiswa Baru
Dalam prakteknya komunikasi yang terjadi antar dosen dan mahasiswa sering berjalan tidak efektif. Terutama bagi mahasiswa baru yang harus terpaksa belajar mengartikan setiap bahasa yang digunakan dosen dalam mengajar, agar dapat mengerti apa yang di komunikasikan dosen tersebut serta tercapainya tujuan komunikasi yang diharapkan.

 Tujuan komunikasi tidak akan tercapai, jika komunikasi tidak berjalan efektif. Efektivitas komunikasi interpersonal tercapai, bila komunikan menginterpretasikan pesan yang diterima mempunyai makna yang sama dengan maksud pesan yang disampaikan oleh komunikator.[5] Sesuai dengan pernyataan tersebut, maka dalam komunikasi interpersonal yang efektif pesan atau isi komunikasi yang disampaikan oleh komunikator dapat diterima secara baik oleh komunikan, sehingga tujuan komunikasi tercapai. Begitupun halnya mahasiswa baru mampu menangkap pesan yang disampaikan oleh dosen dengan baik agar tujuan belajar yang diharapkan dapat dengan mudah dicapai.

Senada dengan pendapat diatas, Pendapat lain[6] menyatakan bahwa komunikasi interpersonal yang efektif menyebabkan dua individu yang tergabung dalam proses komunikasi merasa senang, sehingga mendorong tumbuhnya sikap saling terbuka, sebaliknya bila komunikasi interpersonal berjalan tidak efektif maka menyebabkan pelaku komunikasi mengembangkan sikap tegang. Adanya keterbukaan dalam komunikasi memudahkan komunikan memahami maksud dari pesan yang disampaikan oleh komunikator dan dapat mempengaruhi komunikan untuk bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan harapan komunikator.

Selain itu ada juga yang mengatakan bahwa Komunikasi adalah pertukaran pesan secara verbal dan non verbal dari pengirim ke penerima pesan yang bertujuan untuk mengubah tingkah laku.[7] Umpan balik dalam komunikasi tidak hanya berupa pernyataan tetapi dapat juga berupa tingkah laku, karena salah satu efek dari proses komunikasi adalah mempengaruhi orang lain untuk bertingkah laku sesuai dengan tujuan komunikasi.

Merujuk pada pendapat-pendapat diatas, kita dapat menghubungkannya pada komunikasi dosen-mahasiswa baru. Tentunya dosen faham dengan keadaan Mahasiswa baru, dimana mereka masih dalam tahap proses penyesuaian diri dengan lingkungannya yang baru. Tidak sedikit dosen yang berharap mahasiswa tersebut cepat beradaptasi dengan keadaan mereka sekarang, terutama dalam proses pembelajaran yang menjadi tujuan dominan dalam suatu lembaga pendidikan. Pastinya juga dosen berharap Mahasiswa baru bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan yang diharapkan. Yang dimana secara tidak langsung merupakan tujuan dari komunikasi yang telah terjadi.
Seorang ahli[8] menyatakan bahwa aspek-aspek efektivitas komunikasi interpersonal antara lain:
·         Keterbukaan
·         Empati
·         Dukungan
·         Kepositifan
·         Kesederajatan
·         Keyakinan
·         Kesiapan  
·         Sikap ekspresif
·         Orientasi pada orang lain

Berdasarkan pendapat diatas kita dapat menggunakan aspek-aspek keefektifan komunikasi tersebut untuk menjadi pengukur maupun pedoman kita untuk mencapai keefektif suatu tujuan komunkasi yang diharapkan. Begitupun halnya pada komunikasi antar dosen – mahasiswa baru.

C.   Gejala komunikasi antar Dosen dan Mahasiswa baru
Pada kenyataannya Komunikasi Interpersonal bebas mengubah topik pembicaraan dan bisa saja didominasi oleh satu pihak. Nah dalam komunikasi pada lembaga pendidikan atau kampus komunikasi dosen-mahasiswa biasanya didominasi oleh dosen. Kita semua tahu kalau dosen adalah pengajar peserta didik di tingkat pendidikan yang paling tinggi. Tentunya mereka lebih luas pengetahuannya. Dan mahasiswa pun tak memungkirinya.

Hal tersebut terlihat saat proses belajar mengajar yang terjadi. Sudah tidak asing lagi bila seorang dosen dalam mengajar menggunakan bahasa yang tidak sedikit mahasiswanya faham dengan apa perngertian bahasa tersebut. Alhasil tujuan yang diharapkan si dosen tidak efektif terespon oleh si mahasiswa. Apalagi hal tersebut terjadi pada si mahasiswa baru.  Dalam hal ini menurut saya akan lebih baik bila proses komunikasi tersebut berjalan sesuai dengan keadaan si komunikator dan si komunikan yang seimbang, dalam artian :

a)    Dari segi Dosen
ada baiknya jikalau si dosen terlebih dahulu memahami bagaimana kriteria si peserta didiknya. Misalnya, si dosen sebelum memulai masuk ke pelajarannya terlebih dahulu mempelajari apa, siapa dan bagaimana kriteria si peserta didiknya ini.

Hal ini setidaknya dapat memberikan gambaran bagi si dosen untuk bagaimana ia dapat memberikan pengajaran yang baik bahkan efektif bagi peserta didiknya tersebut. Selain itu si dosen juga bisa belajar dari pengalamannya yang telah ia miliki serta sebagai tolak ukur dalam mengevaluasi dirinya dalam pengajaran yang telah ia lakukan selama ini, seperti apa yang perlu ditambahkan dan apa yang perlu dikurangkan. Apalagi jika si peserta didiknya ini adalah mahasiswa baru. Butuh kerja keras yang ekstra bagi si dosen untuk melakukannya.

Dengan demikian tujuan komunikasi yang diharapkan si dosen kepada si mahasiswanya dapat tersampaikan dengan baik bahkan efektif.

b)    Dari segi Mahasiswa
Jika salah satu pihak komunikasi tidak terlibat secara efektif tujuan komunikasi tidak akan tersampaikan dengan baik. Sesuai dengan pendapat berikut yang menyatakan bahwa komunikasi interpersonal tidak hanya dapat berlangsung satu arah, akan tetapi dapat juga berlangsung dua arah.[9] Komunikasi dua arah adalah komunikasi yang melibatkan pihak komunikator dan komunikan yang terlibat secara aktif dalam proses komunikasi. Pendapat lainnya yakni Komunikasi dua arah memungkinkan pihak komunikan untuk memberikan respon, berupa umpan balik dari pesan yang telah diterima kepada komunikator. Komunikasi interpersonal.[10] Pada kenyataannya banyak mahasiswa baru yang sulit dalam pembelajaran. Biasanya gejalanya seperti berikut :
·         Penggunaan bahasa dan kerumitan kata dosen yang sangat asing dan sulit dimengerti
·         Teknik Penyampaian yang membuat si mahasiswa menjadi tidak semangat belajar
·         Materi Pelajaran yang tidak berkesinambungan, dan lainnya
Dalam hal ini Mahasiswa juga dituntut untuk bisa menangkap tujuan komunikasi yang diharapkan. Untuk mengurang gejala-gejala tersebut, menurut saya ada baiknya jika mahasiswa mengantisipasi hal tersebut. Misalnya berusaha mencari tahu bagaimana kriteria setiap dosen yang membimbing atau yang mengajarinya. Mungkin bisa dengan bertanya kepada kakak kelas atau dosen pembantu akademik. Dengan demikian dapat mengurangi sedikit gejala yang menimbulkan tidak efektifnya tujuan komunikasi yang diharapkan dosen terhadap mahasiswanya.



BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN           :
            Masa peralihan yang menuntut mahasiswa baru untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Diantaranya ialah bagaimana ia dapat berkomunikasi yang efektif dengan dosen agar tujuan komunikasi pada proses belajar mengajar yang diharapkan dosen dapat tersampaikan kepada mahasiswa.
Cara yang dapat ditempuh oleh mahasiswa agar tercapai efektivitas komunikasi dengan dosen adalah menjalin kedekatan dengan dosen, membangun persepsi yang positif pada dosen, menumbuhkan keterbukaan dan kejujuran, serta membangun kepercayaan pada dosen.
Dosen diharapkan dapat mempertahankan keefektivitasan komunikasi yang telah terjalin dengan mahasiswanya. Jika kedua belah pihak, baik mahasiswa maupun dosen dapat bekerjasama, maka akan sangat membantu dalam lancarnya pencapaian tujuan komunikasi yang diharapkan.
           
                                                                                                
                                                                        

DAFTAR PUSTAKA

Ø  Mulyana, Deddy. 2007. Ilmu Komunikasi suatu Pengantar. Bandung : Rosda


[1] (Sarwono, 1997, h. 193).
[2] (De Vito, 1995, h. 7)
[3] (Supratiknya, 1995, h. 10).
[4] (Steward L. Tubbs and Sylvia Moss. Human Communications. Edisi ke-2. New York: Rndaom House, 1977, hlm. 8)
[5] (Supratiknya, 1995, h. 34).
[6] (Rakhmat (1998, h. 13-14)
[7] (Muhammad, 2001, h. 5)
[8] (De Vito (1995, h. 106-114)
[9] (Walgito, 2001,h. 77)
[10] (Mulyana, 2001, h. 73).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar